Prabujayadiningrat’s Weblog

Just another WordPress.com weblog

Raja-raja Sunda

Posted by prabujayadiningrat on February 18, 2008

Sumber : www.allbandung.com 

Telah diutarakan dalam Bab III (Tarumanagara) bahwa dalam tahun 536 M sudah ada haji Sunda (raja Sunda) yang waktu itu menjadi bawahan Tarumanagara. Yang dimaksud raja-raja Sunda dalam paragrap ini adalali ke-turunan Tarusbawa yang pada umumnya berkedudukan di Pakuan dan untuk membedakannya dari raja-raja Galuh.

Tarusbawa (669 – 723 M) digantikan oleh Sanjaya (723 – 732 M), suami cucunya karena mertua Sanjaya, Rakeyan Sunda Sembawa, yang men­jadi putera mahkota Kerajaan Sunda wafat mendahului Tarusbawa. Setelah Sanjaya pindah ke Medang di Bumi Mataram (732 M), kedudukannya diganti oleh puteranya, Tamperan (732 – 739 M). Ia berkuasa di Sunda dan Galuh seperti Sanjaya.

Tamperan alias Barmawijaya digantikan oleh Banga (739 – 766 M) puteranya dari Dewi Bangrenyep dengan gelar Prabu Kertabuana Yasawiguna Aji Mulya. Banga digantikan oleh puteranya yaitu Rakeyan Medang atau Prabu Hulukujang (776 – 783 M). Setelah wafat ia digantikan oleh menantunya yaitu Rakeyan Ujung Kulon atau Prabu Gilingwesi (783 – 795 M).

Raja ini adalah kakak Sang Tariwulan putera Manisri (menantu Manarah). Jadi, cucu Manarah ini mempersunting.cucu Banga yang dengan sendirinya akan mempererat hubungan keraton Sunda dengan Galuh.

Prabu Gilingwesi pun digantikan oleh menantunya yaitu Rakeyan Diwus alias Prabu Pucukbumi Darmeswara (795 — 819 M). Permaisurinya adalah puteri Prabu Gilingwesi. Dari perkawinan ini lahir seroang putera yaitu Rakeyan Wuwus yang kelak menggantikan kedudukan ayahnya dengan gelar Prabu Gajah Kulon (819 – 891 M). Adiknya, seorang puteri, diperisteri oleh Arya Kedaton cucu Sang Tariwulan dari isterinya yang kedua.

Permaisuri Rakeyan Wuwus adalah puteri Galuh adik Prabu Iinggabumi. Karena Linggabumi tidak mempunyai keturunan, setelah dia wafat (852 M), talita Galuh dikuasai Rakeyan Wuwus seliingga sejak tahun tersebut sampai tahun 891 ia menjadi penguasa Sunda-Galuh. Karena Rakeyan Wuwus pun tidak mempunyai keturunan, ia digantikan oleh Arya Kedaton (891 — 895 M) suami adiknya dengan gelar Prabu Darmaraksa Sakalabuana. Raja ini dibunuh oleh seorang menteri Sunda yang fanatik yang merasa tidak senang tahta Sunda diduduki oleh orang Galuh.

Prabu Darmaraksa digantikan oleh puteranya yaitu Rakeyan Windusakti (895 – 913 M) dengan gelar Prabu Dewageng Jayeng Buana. Raja ini diganti­kan oleh puteranya yaitu Rakeyan Kamuning Gading dengan gelar Prabu Pucukwesi (913 – 916 M). Ia hanya memerintah selama 3 tahun karena kekuasaannya direbut oleh adiknya. Setelah wafat Prabu Pucukwesi dipusara­kan di Ujung Cariang.

Raja berikutnya adalah Rakeyan Jayagiri yang bergelar Prabu Wanayasa (916 — 942 M). Ia digantikan oleh menantunya yaitu Rakeyan Watuatgeng (942 — 954 M) dengan gelar Praburesi Atmayadarma Hariwangsa. Dalam tahun 954 M ia digulingkan dari tahta oleh Sang Limbur Kancana sebagai tindakan balas dendam karena mertua Atmayadarma Hariwangsa, Prabu Wana yasa, telah merebut kekuasaan dari Prabu Pucukwesi ayah Limbur Kancana. Ia memerintah tahun 954 – 964 M dan kemungkinan berkedudukan di Galuh karena setelah wafat ia disebut sang mokteng Galuh Pakwan (yang wafat di keraton Galuh). Permaisurinya orang Galuh keturunan Manarah.

Prabu limbur Kancana digantikan oleh puteranya yang bernama Rake­yan Sunda Sembawa (964 – 973 M) dengan gelar Prabu Munding Ganawirya Tapakmanggala Jayasatru. Ia tidak mempunyai keturunan. Setelah wafat kedudukannya digantikan oleh suami adiknya yaitu Rakeyan Jayagiri (973 -989 M) yang bergelar Prabu Wulung Gadung. Ia dipusarakan di Jayagiri.

Raja berikutnya adalah putera Prabu Wulung Gadung yaitu Rakeyan Gendang atau Prabu Brajawisesa (989 – 1012 M). ia digantikan oleh puteranya yang bergelar Prabu Dewa Sanghyang (1012 – 1019 M). Raja ini wafat di pertapaan sehingga disebut sang mokteng patapan. Raja berikutnya adalah puteranya yaitu Prabu Sanghyang Ageung selama 11 tahun (1019 – 1030 M). la dipusarakan di tepi Situ Sanghiyang yang mungkin terletak di Desa Cibala-narik Tasikmalaya.

Pengganti Dewa Sanghyang adalah Sri Jayabupati (1030 – 1042 M) yang telah diuraikan di muka. Gelarnya yang sangat panjang itu diberikan oleh Prabu Darmawangsa, mertuanya, sebagai hadiah perkawinan. Nama “Sundanya” menurut Carita Parahiyangan adalah Prabu Detya Maharaja. Namun dalam Pustaka Nusantara 1/4 tertulis Prabu Satya Maharaja atau Setya Maharaja. Dalam hal ini ada kemungkinan Carita Parahiyangan yang benar karena dalam naskah-naskah Wangsakerta ada beberapa kejadian salah-tulis: huruf DA ditulis SA seperti: dwitya ditulis switya, wadwa ditulis waswa.

Jayabupati digantikan oleh puteranya yaitu Prabu Darmaraja yang di­pusarakan di Winduraja (1042 — 1065 M). la digantikan oleh Prabu Lang-langbumi (1065 — 1155 M), menantunya. Raja ini dipusarakan di Kerta. Penggantinya adalah puteranya yaitu Rakeyan Jayagiri alias Prabu Menak Luhur Langlangbumisuta (1155 — 1157 M). Dalam Carita Parahiyangan masa pemerintahan raja ini tergabungkan ke dalam masa pemerintahan ayalinya karena tokoh ini tidak disebut. la digantikan oleh puteranya yaitu Prabu Darmakusuma (1157 —   1175 M) yang dipusarakan di Winduraja.

Raja berikutnya adalah Prabuguru Darmasiksa (1175 – 1291 M). la di­sebut juga Sang Paramarta Mahapurusa atau Prabu Sanghiyang Wisnu dan dalam Carita Parahiyangan dianggap sebagai penjelmaan Wisnu atau Patanjala. Ada dua sumber yang menyebutkan bahwa raja ini memerintah selama 122 tahun. Isterinya yang pertama adalah seorang puteri Sriwijaya, sedang-kan isterinya yang kedua berasal dari Darma Agung (sekarang: Desa Darma) yang terletak di Kecamatan Kadugede, Kuningan. Saunggalah yang pertama terletak di sebelah utaranya (Desa Ciherang) sedangkan Saunggalah yang kedua yang dibangun oleh Darmasiksa terletak di dacrah Mangunreja, Tasik­malaya.

Penggantinya adalah puteranya dari puteri Sriwijaya yaitu Rakeyan Saunggalah atau Prabu Ragasuci (1297 – 1303 M). Permaisuri Ragasuci adalah Dara Puspa puteri raja Melayu Darmasraya yang bernama Trailokya-raja Maulibusana Warmadewa yang juga menjadi mertua Prabu Kertanegara dari Singasari. Ragasuci berkedudukan di Saunggalah (Tasikmalaya) dan setelah wafat dipusarakan di Taman.

Raja berikutnya adalah Prabu Citraganda yang ditunjuk oleh Darmasiksa

sebagai ahli warisnya di Pakuan. la putera Prabu Ragasuci dari Dara Puspa. Hubungan kekerabatannya dengan keraton Majapahit sangat erat. Raden Wijaya adalah kakak-sepupunya karena Jayadarma, ayah Wijaya, adalah kakak prabu Ragasuci. Demikian pula Dara Petak salah seorang isteriWijaya adalah kakak-sepupunya dari pihak ibu. Dara Petak (adik Dara’Jingga) adalah puteri Kertanagara dari Dara Kencana kakak Dara Puspa ibunda Prabu Citraganda. Dara Petak adalah ibunda Prabu Jayanagara raja Majapahit yang kedua.

Prabu Citraganda (1303 – 1311 M) dipusarakan di Tanjung. la diganti­kan oleh puteranya yaitu Prabu Linggadewata (1311 – 1333 M). Raja ini dapat dianggap raja peralihan karena setelah ia wafat raja-raja berikutnya memerintah di Kawali. Sangat mungkin ia sendiri mengakhiri masa pemerin-tahannya di Kawali. Raja ini dipusarakan di Kikis.

RAJA-RAJA SUNDA SETELAH SRI JAYABUPATI

Puteri Melayu x Sri Jayabupati x puteri Darmavvangsa

Darmaraja 1042- 1065

Langlangbumi 1065- 1155

Rakeyan Jayagiri 1055- 1057

Darmakusuma 1057- 1175

Puteri Darma Agung x Darmasiksa    x    Puteri Sriivijaya 1175- 1297

Premana Jayadarma x Lembu Tal’ Ragasuci x Dara Puspa

1297- 1303

Raden Wijaya             Citraganda

(MAJAPAHIT)     13-3-1311

Linggadewata 1311 – 1333

AjigunaLinggawisesa x Uma Lestari 1333- 1340

pr@bu 180208

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: