Prabujayadiningrat’s Weblog

Just another WordPress.com weblog

Hubungan Sunda dengan Galuh

Posted by prabujayadiningrat on February 18, 2008

From : www.allbandung.com 

Telah diutarakan dalam bab yang lalu bahwa Tarusbawa digantikan oleh Sanjaya dalam tahun 723 M. Dalam tahun itu juga Sanjaya berhasil merebut tahta Kerajaan Galuh “warisan ayahnya” dari kekuasaan Purbasora. Dengan demikian Sanjaya berhasil meraih kembali bekas kawasan Tarumanagara dalam satu tangan. Peristiwa itu telah menempatkan Pakuan sebagai pusat pemerintahan sebab Sanjaya berkedudukan di ibukota Sunda ini.

 Setelah berhasil menundukkan Indrawarman, Sanjaya merasa bahwa an-caman dari pihak Sriwijaya untuk sementara telah hilang. Ia mengadakan musyawarah di keraton Galuh dalam tahun 731 M. Sanjaya telah diberikabar oleh ayahnya, Sena, bahwa tahta Medang harus segera didudukinya karena sang ayah akan menempuh kehidupan dalam biara untuk menekuni agama sambil menanti tutup usia. Dalam tahun itu Sanjaya memang berhak menamakan dirinya sebagai Yang Dipertiian di Pulau Jawa karena di samp ing berkedudukan sebagai penguasa Sunda-Galuh dan putera mahkota Medang, kekuasaannya telah diakui pula oleh Prabu Narayana (Iswara) di Kalingga Selatan yang kekuasa­annya meliputi sebahagian Jawa Timur. Penaklukan kerajaan-kerajaan kecil bawahan Kalingga Selatan ini telah dilakukan Sanjaya sebelum ia melaksana-kan ekspedisi perangnyake Sumatera.Dalam musyawarah itu Sanjaya mengemukakan hasratnya akan kembali ke Jawa Tengah untuk memegang pemerintahan di Medang. Wilayah sebelah  Hari Progo Utara ditetapkannya sebagai daerah kekuasaan Prabu Iswara.  cunda-Galuh diwariskannya kepada Tamperan, putera Sanjaya dari arcana cucu Tarusbawa, dan Kerajaan Kuningan (termasuk Galunggung) akan sebagai daerah kekuasaan Resiguru Demunawan putera bungsu Sempakwaja. Kerajaan Kuningan sebenarnya kerajaan merdeka. Tindakan Sanjaya hgnyalah dimaksudkan agar Tamperan dan para penggantinya di Jawa Barat tidak mengusik kedaulatan kerajaan tersebut. Kalau ia mau sebenarnya San-dapat dengan mudah menguasai Kuningan setelah ia berhasil membalas y (723 M) terhadap trio Wulan-Tumanggal-Pandawa. Akan tettpi di balik segala keperkasaannya itu Sanjaya selalu patuh terhadap pe-tuah ayahandanya. Dalam perebutan tahta Galuh, Sena hanya mengizinkan Sanjaya memerangj Purbasora, tetapi melarang puteranya itu berbuat lancang kepada tokoh-tokoh tua Galuh yang lainnya. Sanjaya merasa perlu menegas-k«n hal ini sebagai jaminan bahwa para penguasa Sunda-Galuh yang akan melanjutkan pemerintahannya tidak mengganggu kekuasaan Sang Demu-nawan dan ahli warisnya. Penegasan daerah kekuasaan Prabu Iswara pun merupakan jaminan feahwa sekali pun Sanjaya telah berkedudukan di Jawa Tengah ia tidak akan meagganggu kedaulatan raja tua itu. Iswara alias Namyana adalah putera Maharani Sima dan sekali gus kakek-mertua Sanjaya. Setahun kemudian (732 M) Sanjaya resmi memegang pemerintahan di Medang. ia tcrhitung raja Sunda yang kedua (723 – 732 M). Hubungan Sunda-Galuh semasa pemerintahan Tamperan (732 – 739), telah dipaparkan dalam bab yang lalu. Telah pula diutarakan bahwa hasil perjanjian Galuh tahun 739 M menetapkan pembagian kekuasaan antara Manarah (putera Premana Dikusuma dari Naganingrum dan anak tiri Tampe­ran) dengan Banga (putera Tamperan dari Pangrenyep). Banga adalah raja Sunda yang ketiga. Dalam 20 tahun masa awal peme-riatahannya ia berkedudukan sebagai bawahan Manarah. Kerajann Sunda a»njadi bawahan Galuh (739 – 759 M). Dalam tahun 759 M Banga berhasil membebaskan diri dari kekuasaan Galuh setelah terlebih dahulu ia memmduk-™ kerajaan-kerajaan kecil yang menentangnya di kawasan scbelah barat wtaium. Banga wafat tahun 766 M dalam usia 42 tahun karcna ia lahir awal t»hun724M. Sunda” dari Galuh berlangsung secara damni atas prakarsa Rcsiwan karena dua orang cicitnya, Kanana Wan.-i dwi linnam  masing-masing diperisteri oleh Manarah dan Banga.

Sampai tahun 852 M Sunda dan Galuh berdiri sejajar dengan ikatan kekerabatan melalui kedua cicit Demunawan. Perkawinan di antara ketiga keraton itu telah memperdekat hubungan ‘di antara tiga pusat kekuasaan utama di Jawa Barat waktu itu. Sampai tahun 852 M raja-raja Sunda adalah: Rakeyan Medang (776 – 783), Rakeyan Ujung Kulon (783 – 795), Pucuk-bumi Darmeswara (795 – 819), Rakeyan Wuwus (819 – 891). 

Dalam tahun 852, Prabu Langlangbumi raja Galuh wafat tanpa mening-galkan keturunan. Oleh karena itu tahta Galuh diserahkan kepada Rakeyan Wuwus raja Sunda karena permaisurinya ialah adik perempuan Prabu Lang­langbumi. Dengan peristiwa ini, Sunda dan Galuh kembali berada dalam satu kekuasaan yang sekaligus ditandai oleh perpaduan keturunan Manarah dengan keturunan Banga. Perpaduan ini boleh dikatakan baru bersifat “politik” di tingkat atas karena antara orang Galuh dengan orang Sunda dalam jaman yang silam ter-dapat perbedaan tradisi yang cukup mendasar. Menurut Prof. Anwas Adiwi-laga (1975), orang Galuh adalah “orang air”, orang Sunda adalah “orang gunung”. Mitos Galuh selalu berorientasi kepada mahluk air sedangkan mitos Sunda (Pakuan) selalu berorientasi kepada mahluk gunung. Mayat orang Galuh ditereb (dibenamkan) atau dilaning (dihanyutkan) sedangkan mayat orang Sunda dikurebkeun (dikubur). Perpaduan politik di tingkat atas telah menjadi pendorong utama bagi perpaduan sosial di artara penduduk.kedua kawasan itu karena perbedaan tradisi itu tidak lagi dipertajam dengan permusuhandi antara keluarga keraja­an. Tetapi integrasi etnik itu baru tercapai beberapa abad kemudian secara berangsur-angsur. Ada kemungkinan baru dalam abad ke-13 nama Sunda itu meluas dan digunakan secara umum “tanpa curiga” oleh penduduk Jawa Barat yang tinggal di sebelah timur Citarum. Dalam abad ke-14 sumber-sumber luar sudah menggunakan nama Sunda untuk seluruh kawasan Jawa Barat. Sunda dengan Galuh telah menyatu. Bahwa nama Sunda (bukan Ga­luh) sebagai sebutan tunggal yang digunakan dalam hal ini, hanya merupakan akibat politis karena Sunda (baik tokoh mau pun ibukotanya) mampu ber-peran lebih dominan dalam percaturan sejarah Jawa Barat masa silam. Ada yang patut dicurigai dalam proses perpaduan Sunda-Galuh atau “orang gunung” dengan “orang air” ini. Kita mengetahui bahwa dalam ceri-tera rakyat Sunda terdapat kisah yang sangat populer di seluruh lapisan ma-syarakat yaitu dongeng sakadang kuya jeung sakadang monyet. Mungkinkah ceritera rakyat itu menyimpan sindiran ten tang integrasi Galuh {kuya) dengan Sunda (monyet). Mengapa kedua hewan itu dipersahabatkan secara karib pada hal siapa pun orangnya yang menggubah ceritera itu pasti mengetahui bahwa monyet dengan kuya boleh dikatakan tidak pernah bertemu dalam kchidupan alamiahnya sehari-hari. pr@bu 180208 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: