Prabujayadiningrat’s Weblog

Just another WordPress.com weblog

Kerajaan Galunggung

Posted by prabujayadiningrat on February 18, 2008

Sumber : www.allbandung.com  

Sri Jayabupati wafat tahun 1042 M. la digantikan oleh puteranya yang bernama Prabu Darmaraja Jayamanahen Wisnumurti Sakalasundabuana (1042 – 1065 M) atau sang mokteng Winduraja. Jadi, ia dipusarakan di Winduraja. Tempat bernama demikian dan menyimpan pantulan kepurbakalaan adalah Desa Winduraja di Kecamatan Kawali, Kabupaten Ciamis. Ada gejala bahwa setelah Sri Jayabupati wafat sampai tahun 1187 M pusat pemerintahan terletak di kawasan timur tidak di Pakuan. Cicit raja ini, Prabu Darmakusuma (1157 – 1175 M) juga dipusarakan di Winduraja.

Prabu Darmaraja digantikan oleh puteranya yaitu Prabu Langlangbumi (1065 – 1155 M) atau sang mokteng Kerta. Mungkin sekali salah seorang cucunya diperisteri oleh penguasa Kadiri-Janggala Maharaja Jayabuana Ke-sanananta Wikramotunggadewa (1102 – 1104 M) atau Prabu Surya Amiluhur. Raja ini hanya dua tahun memerintah karena kekuasaannya direbut oleh Jayawarsa Digjaya Sastraprabu. Prabu Jayabuana melarikan diri ke Jawa Barat karena permaisurinya berasal dari sini. Mungkin tokoh inilah yang disebut Prabu Banjaransari pelarian dari Kediri dalam Babad Galuh.

Peristiwa sejarah yang menarik dalam masa pemerintahan Maharaja Langlangbumi ialah berita yang termuat dalam prasasti Geger Hanjuang atau prasasti Galunggung karena ditemukan di lereng Gunung Galunggung, Prasasti ini ditemukan di bukit Geger Hanjuang yangoleh penduduk setempat disebut Kabuyutan Linggawangi karena terletak di Desa Linggawangi, Kecamatan Leuwisari, Kabupaten Tasikmalaya. Sekarang disimpan di Museum Pusat dengan nomor D-26.
Isi prasasti itu ditulis dalam huruf dan bahasa Sunda Kuno yang cukup terang untuk dibaca. Walau pun hanya liga baris pendek namun di dalamnya tercantum tanggal dan tahun. Bacaannya baris demi baris  sebagai berikut :

tra ba i gune apuy na-

sta gomati sakakala rumata-

k disusu(k) ku batari hyang pun

Prasasti itu bertanggal tra (trayodasi = ke-13) ba (badramasa = bulan Badra) atau tanggal 13 bulan Badra (Agustus/September) tahun 1 (gomati) 0 (nasta) 3 (apuy) 3 (gune). Arti lengkapnya: Pada hari ke-13 bulan Badra tahun 1033 Saka Rumatak (seleai) disusuk oleh Batari Hyang.

Karena tidak disebutkan paksa (separuh bulan) dalam prasasti ini digunakan sistem amanta (perhitungan tanggal dari bulan baru ke bulan baru) yang hitungan tanggalnya diteruskan sampai 30. Perhitungan menurut tarih Masehi kira-kira tanggal 21 Agustus HUM.

Rumatak yang oleh penduduk setempat disebut Rumantak adalah bekas ibukota Kerajaan Galunggung yang terletak tidak jauh dari bukit Geger Han­juang tempat prasasti itu ditemukan. Disusuk berarti dikelilingi dengan parit untuk pertahanan. Berita serupa dapat kita baca dalam prasasti Kawali dan Batutulis di Bogor. Dengan demikian tokoh Batari Hyang pun dapat kita duga sebagai penguasa Kerajaan Galunggung waktu itu. Ia tentu keturunan dan ahli waris Resiguru Sempakwaja pendiri Kerajaan Galunggung.

Prasasti itu membuktikan bahwa perjanjian Galuh tahun 739 masih tetap dihomiati. Dalam kropak.632 tokoh Batari Hyang disebut sebagai nu nyusuk na Galunggung. Ajaran yang tertulis dalam naskah itu disebutkan sebagai ajarannya. Tokoh ini pula yang dalam kropak 630 (Sanghyang Siksakandang Karesian) disebut sang sadu jati (sang bijaksana atau sang budiman). Cukup unik karena “pencipta” ajaran tentang kesejahteraan hidup yang harus men­jadi pegangan para raja dan rakyatnya itu adalah seorang wanita.

Mengapa Batari Hyang membangun parit pertahanan sebagai perlindung-an pusat pemerintahannya beluni dapat dijelaskan secara memuaskan. Mungkin ia beijaga-jaga karena melihat pusat pemerintahan Kerajaan Sunda-Galuh berada di kawasan timur atau mungkin karena sebab lain. Kerajaan Galunggung dapat mempertahankan kehadirannya setelali Galuh dan Pajajaran runtuh. Dalam awal abad ke-18 sisa kerajaan itu masih ada dengan nama ‘”Kabupaten” Galunggung dan berpusat di daerah Singaparna. Karena alasan historis, penduduk kampung Naga di Salawu tabu menyebut nama Singapar­na. Mereka berkukuh menggunakan nama Galunggung.

Dalam tradisi masa silam Galunggung dianggap sebagai sumber ilmu karena sejak didirikannya merupakan “kerajaan agama”. Batas-batas alas Galunggung menurut fragmen Carita Parahiyangan ialah: Gunung Sawal di sebelah utara, Pelang Datar di sebelah timur dan Ciwulan di sebelah selatan. Sebuah naskah yang dimiliki oleh sesepuh di Singaparna (berbahasa Sunda berhuruf Arab) dan berasal dari bagian akhir abad ke-19 masili menyebutkan tokoh Sempakwaja di antara generasi pertama Kerajaan Galunggung. la masih dikenal dan disebut dalam berbagai mantra dan do’a. la sudah “didewakan” orang.

pr@bu 180208

Posted in Galuh, jawa barat, Kisah, Sejarah, Sunda | Leave a Comment »

Hubungan Sunda dengan Galuh

Posted by prabujayadiningrat on February 18, 2008

From : www.allbandung.com 

Telah diutarakan dalam bab yang lalu bahwa Tarusbawa digantikan oleh Sanjaya dalam tahun 723 M. Dalam tahun itu juga Sanjaya berhasil merebut tahta Kerajaan Galuh “warisan ayahnya” dari kekuasaan Purbasora. Dengan demikian Sanjaya berhasil meraih kembali bekas kawasan Tarumanagara dalam satu tangan. Peristiwa itu telah menempatkan Pakuan sebagai pusat pemerintahan sebab Sanjaya berkedudukan di ibukota Sunda ini.

 Setelah berhasil menundukkan Indrawarman, Sanjaya merasa bahwa an-caman dari pihak Sriwijaya untuk sementara telah hilang. Ia mengadakan musyawarah di keraton Galuh dalam tahun 731 M. Sanjaya telah diberikabar oleh ayahnya, Sena, bahwa tahta Medang harus segera didudukinya karena sang ayah akan menempuh kehidupan dalam biara untuk menekuni agama sambil menanti tutup usia. Dalam tahun itu Sanjaya memang berhak menamakan dirinya sebagai Yang Dipertiian di Pulau Jawa karena di samp ing berkedudukan sebagai penguasa Sunda-Galuh dan putera mahkota Medang, kekuasaannya telah diakui pula oleh Prabu Narayana (Iswara) di Kalingga Selatan yang kekuasa­annya meliputi sebahagian Jawa Timur. Penaklukan kerajaan-kerajaan kecil bawahan Kalingga Selatan ini telah dilakukan Sanjaya sebelum ia melaksana-kan ekspedisi perangnyake Sumatera.Dalam musyawarah itu Sanjaya mengemukakan hasratnya akan kembali ke Jawa Tengah untuk memegang pemerintahan di Medang. Wilayah sebelah  Hari Progo Utara ditetapkannya sebagai daerah kekuasaan Prabu Iswara.  cunda-Galuh diwariskannya kepada Tamperan, putera Sanjaya dari arcana cucu Tarusbawa, dan Kerajaan Kuningan (termasuk Galunggung) akan sebagai daerah kekuasaan Resiguru Demunawan putera bungsu Sempakwaja. Kerajaan Kuningan sebenarnya kerajaan merdeka. Tindakan Sanjaya hgnyalah dimaksudkan agar Tamperan dan para penggantinya di Jawa Barat tidak mengusik kedaulatan kerajaan tersebut. Kalau ia mau sebenarnya San-dapat dengan mudah menguasai Kuningan setelah ia berhasil membalas y (723 M) terhadap trio Wulan-Tumanggal-Pandawa. Akan tettpi di balik segala keperkasaannya itu Sanjaya selalu patuh terhadap pe-tuah ayahandanya. Dalam perebutan tahta Galuh, Sena hanya mengizinkan Sanjaya memerangj Purbasora, tetapi melarang puteranya itu berbuat lancang kepada tokoh-tokoh tua Galuh yang lainnya. Sanjaya merasa perlu menegas-k«n hal ini sebagai jaminan bahwa para penguasa Sunda-Galuh yang akan melanjutkan pemerintahannya tidak mengganggu kekuasaan Sang Demu-nawan dan ahli warisnya. Penegasan daerah kekuasaan Prabu Iswara pun merupakan jaminan feahwa sekali pun Sanjaya telah berkedudukan di Jawa Tengah ia tidak akan meagganggu kedaulatan raja tua itu. Iswara alias Namyana adalah putera Maharani Sima dan sekali gus kakek-mertua Sanjaya. Setahun kemudian (732 M) Sanjaya resmi memegang pemerintahan di Medang. ia tcrhitung raja Sunda yang kedua (723 – 732 M). Hubungan Sunda-Galuh semasa pemerintahan Tamperan (732 – 739), telah dipaparkan dalam bab yang lalu. Telah pula diutarakan bahwa hasil perjanjian Galuh tahun 739 M menetapkan pembagian kekuasaan antara Manarah (putera Premana Dikusuma dari Naganingrum dan anak tiri Tampe­ran) dengan Banga (putera Tamperan dari Pangrenyep). Banga adalah raja Sunda yang ketiga. Dalam 20 tahun masa awal peme-riatahannya ia berkedudukan sebagai bawahan Manarah. Kerajann Sunda a»njadi bawahan Galuh (739 – 759 M). Dalam tahun 759 M Banga berhasil membebaskan diri dari kekuasaan Galuh setelah terlebih dahulu ia memmduk-™ kerajaan-kerajaan kecil yang menentangnya di kawasan scbelah barat wtaium. Banga wafat tahun 766 M dalam usia 42 tahun karcna ia lahir awal t»hun724M. Sunda” dari Galuh berlangsung secara damni atas prakarsa Rcsiwan karena dua orang cicitnya, Kanana Wan.-i dwi linnam  masing-masing diperisteri oleh Manarah dan Banga.

Sampai tahun 852 M Sunda dan Galuh berdiri sejajar dengan ikatan kekerabatan melalui kedua cicit Demunawan. Perkawinan di antara ketiga keraton itu telah memperdekat hubungan ‘di antara tiga pusat kekuasaan utama di Jawa Barat waktu itu. Sampai tahun 852 M raja-raja Sunda adalah: Rakeyan Medang (776 – 783), Rakeyan Ujung Kulon (783 – 795), Pucuk-bumi Darmeswara (795 – 819), Rakeyan Wuwus (819 – 891). 

Dalam tahun 852, Prabu Langlangbumi raja Galuh wafat tanpa mening-galkan keturunan. Oleh karena itu tahta Galuh diserahkan kepada Rakeyan Wuwus raja Sunda karena permaisurinya ialah adik perempuan Prabu Lang­langbumi. Dengan peristiwa ini, Sunda dan Galuh kembali berada dalam satu kekuasaan yang sekaligus ditandai oleh perpaduan keturunan Manarah dengan keturunan Banga. Perpaduan ini boleh dikatakan baru bersifat “politik” di tingkat atas karena antara orang Galuh dengan orang Sunda dalam jaman yang silam ter-dapat perbedaan tradisi yang cukup mendasar. Menurut Prof. Anwas Adiwi-laga (1975), orang Galuh adalah “orang air”, orang Sunda adalah “orang gunung”. Mitos Galuh selalu berorientasi kepada mahluk air sedangkan mitos Sunda (Pakuan) selalu berorientasi kepada mahluk gunung. Mayat orang Galuh ditereb (dibenamkan) atau dilaning (dihanyutkan) sedangkan mayat orang Sunda dikurebkeun (dikubur). Perpaduan politik di tingkat atas telah menjadi pendorong utama bagi perpaduan sosial di artara penduduk.kedua kawasan itu karena perbedaan tradisi itu tidak lagi dipertajam dengan permusuhandi antara keluarga keraja­an. Tetapi integrasi etnik itu baru tercapai beberapa abad kemudian secara berangsur-angsur. Ada kemungkinan baru dalam abad ke-13 nama Sunda itu meluas dan digunakan secara umum “tanpa curiga” oleh penduduk Jawa Barat yang tinggal di sebelah timur Citarum. Dalam abad ke-14 sumber-sumber luar sudah menggunakan nama Sunda untuk seluruh kawasan Jawa Barat. Sunda dengan Galuh telah menyatu. Bahwa nama Sunda (bukan Ga­luh) sebagai sebutan tunggal yang digunakan dalam hal ini, hanya merupakan akibat politis karena Sunda (baik tokoh mau pun ibukotanya) mampu ber-peran lebih dominan dalam percaturan sejarah Jawa Barat masa silam. Ada yang patut dicurigai dalam proses perpaduan Sunda-Galuh atau “orang gunung” dengan “orang air” ini. Kita mengetahui bahwa dalam ceri-tera rakyat Sunda terdapat kisah yang sangat populer di seluruh lapisan ma-syarakat yaitu dongeng sakadang kuya jeung sakadang monyet. Mungkinkah ceritera rakyat itu menyimpan sindiran ten tang integrasi Galuh {kuya) dengan Sunda (monyet). Mengapa kedua hewan itu dipersahabatkan secara karib pada hal siapa pun orangnya yang menggubah ceritera itu pasti mengetahui bahwa monyet dengan kuya boleh dikatakan tidak pernah bertemu dalam kchidupan alamiahnya sehari-hari. pr@bu 180208 

 

Posted in Galuh, jawa barat, Kisah, Sejarah | Leave a Comment »

Raja-raja Sunda

Posted by prabujayadiningrat on February 18, 2008

Sumber : www.allbandung.com 

Telah diutarakan dalam Bab III (Tarumanagara) bahwa dalam tahun 536 M sudah ada haji Sunda (raja Sunda) yang waktu itu menjadi bawahan Tarumanagara. Yang dimaksud raja-raja Sunda dalam paragrap ini adalali ke-turunan Tarusbawa yang pada umumnya berkedudukan di Pakuan dan untuk membedakannya dari raja-raja Galuh.

Tarusbawa (669 – 723 M) digantikan oleh Sanjaya (723 – 732 M), suami cucunya karena mertua Sanjaya, Rakeyan Sunda Sembawa, yang men­jadi putera mahkota Kerajaan Sunda wafat mendahului Tarusbawa. Setelah Sanjaya pindah ke Medang di Bumi Mataram (732 M), kedudukannya diganti oleh puteranya, Tamperan (732 – 739 M). Ia berkuasa di Sunda dan Galuh seperti Sanjaya.

Tamperan alias Barmawijaya digantikan oleh Banga (739 – 766 M) puteranya dari Dewi Bangrenyep dengan gelar Prabu Kertabuana Yasawiguna Aji Mulya. Banga digantikan oleh puteranya yaitu Rakeyan Medang atau Prabu Hulukujang (776 – 783 M). Setelah wafat ia digantikan oleh menantunya yaitu Rakeyan Ujung Kulon atau Prabu Gilingwesi (783 – 795 M).

Raja ini adalah kakak Sang Tariwulan putera Manisri (menantu Manarah). Jadi, cucu Manarah ini mempersunting.cucu Banga yang dengan sendirinya akan mempererat hubungan keraton Sunda dengan Galuh.

Prabu Gilingwesi pun digantikan oleh menantunya yaitu Rakeyan Diwus alias Prabu Pucukbumi Darmeswara (795 — 819 M). Permaisurinya adalah puteri Prabu Gilingwesi. Dari perkawinan ini lahir seroang putera yaitu Rakeyan Wuwus yang kelak menggantikan kedudukan ayahnya dengan gelar Prabu Gajah Kulon (819 – 891 M). Adiknya, seorang puteri, diperisteri oleh Arya Kedaton cucu Sang Tariwulan dari isterinya yang kedua.

Permaisuri Rakeyan Wuwus adalah puteri Galuh adik Prabu Iinggabumi. Karena Linggabumi tidak mempunyai keturunan, setelah dia wafat (852 M), talita Galuh dikuasai Rakeyan Wuwus seliingga sejak tahun tersebut sampai tahun 891 ia menjadi penguasa Sunda-Galuh. Karena Rakeyan Wuwus pun tidak mempunyai keturunan, ia digantikan oleh Arya Kedaton (891 — 895 M) suami adiknya dengan gelar Prabu Darmaraksa Sakalabuana. Raja ini dibunuh oleh seorang menteri Sunda yang fanatik yang merasa tidak senang tahta Sunda diduduki oleh orang Galuh.

Prabu Darmaraksa digantikan oleh puteranya yaitu Rakeyan Windusakti (895 – 913 M) dengan gelar Prabu Dewageng Jayeng Buana. Raja ini diganti­kan oleh puteranya yaitu Rakeyan Kamuning Gading dengan gelar Prabu Pucukwesi (913 – 916 M). Ia hanya memerintah selama 3 tahun karena kekuasaannya direbut oleh adiknya. Setelah wafat Prabu Pucukwesi dipusara­kan di Ujung Cariang.

Raja berikutnya adalah Rakeyan Jayagiri yang bergelar Prabu Wanayasa (916 — 942 M). Ia digantikan oleh menantunya yaitu Rakeyan Watuatgeng (942 — 954 M) dengan gelar Praburesi Atmayadarma Hariwangsa. Dalam tahun 954 M ia digulingkan dari tahta oleh Sang Limbur Kancana sebagai tindakan balas dendam karena mertua Atmayadarma Hariwangsa, Prabu Wana yasa, telah merebut kekuasaan dari Prabu Pucukwesi ayah Limbur Kancana. Ia memerintah tahun 954 – 964 M dan kemungkinan berkedudukan di Galuh karena setelah wafat ia disebut sang mokteng Galuh Pakwan (yang wafat di keraton Galuh). Permaisurinya orang Galuh keturunan Manarah.

Prabu limbur Kancana digantikan oleh puteranya yang bernama Rake­yan Sunda Sembawa (964 – 973 M) dengan gelar Prabu Munding Ganawirya Tapakmanggala Jayasatru. Ia tidak mempunyai keturunan. Setelah wafat kedudukannya digantikan oleh suami adiknya yaitu Rakeyan Jayagiri (973 -989 M) yang bergelar Prabu Wulung Gadung. Ia dipusarakan di Jayagiri.

Raja berikutnya adalah putera Prabu Wulung Gadung yaitu Rakeyan Gendang atau Prabu Brajawisesa (989 – 1012 M). ia digantikan oleh puteranya yang bergelar Prabu Dewa Sanghyang (1012 – 1019 M). Raja ini wafat di pertapaan sehingga disebut sang mokteng patapan. Raja berikutnya adalah puteranya yaitu Prabu Sanghyang Ageung selama 11 tahun (1019 – 1030 M). la dipusarakan di tepi Situ Sanghiyang yang mungkin terletak di Desa Cibala-narik Tasikmalaya.

Pengganti Dewa Sanghyang adalah Sri Jayabupati (1030 – 1042 M) yang telah diuraikan di muka. Gelarnya yang sangat panjang itu diberikan oleh Prabu Darmawangsa, mertuanya, sebagai hadiah perkawinan. Nama “Sundanya” menurut Carita Parahiyangan adalah Prabu Detya Maharaja. Namun dalam Pustaka Nusantara 1/4 tertulis Prabu Satya Maharaja atau Setya Maharaja. Dalam hal ini ada kemungkinan Carita Parahiyangan yang benar karena dalam naskah-naskah Wangsakerta ada beberapa kejadian salah-tulis: huruf DA ditulis SA seperti: dwitya ditulis switya, wadwa ditulis waswa.

Jayabupati digantikan oleh puteranya yaitu Prabu Darmaraja yang di­pusarakan di Winduraja (1042 — 1065 M). la digantikan oleh Prabu Lang-langbumi (1065 — 1155 M), menantunya. Raja ini dipusarakan di Kerta. Penggantinya adalah puteranya yaitu Rakeyan Jayagiri alias Prabu Menak Luhur Langlangbumisuta (1155 — 1157 M). Dalam Carita Parahiyangan masa pemerintahan raja ini tergabungkan ke dalam masa pemerintahan ayalinya karena tokoh ini tidak disebut. la digantikan oleh puteranya yaitu Prabu Darmakusuma (1157 —   1175 M) yang dipusarakan di Winduraja.

Raja berikutnya adalah Prabuguru Darmasiksa (1175 – 1291 M). la di­sebut juga Sang Paramarta Mahapurusa atau Prabu Sanghiyang Wisnu dan dalam Carita Parahiyangan dianggap sebagai penjelmaan Wisnu atau Patanjala. Ada dua sumber yang menyebutkan bahwa raja ini memerintah selama 122 tahun. Isterinya yang pertama adalah seorang puteri Sriwijaya, sedang-kan isterinya yang kedua berasal dari Darma Agung (sekarang: Desa Darma) yang terletak di Kecamatan Kadugede, Kuningan. Saunggalah yang pertama terletak di sebelah utaranya (Desa Ciherang) sedangkan Saunggalah yang kedua yang dibangun oleh Darmasiksa terletak di dacrah Mangunreja, Tasik­malaya.

Penggantinya adalah puteranya dari puteri Sriwijaya yaitu Rakeyan Saunggalah atau Prabu Ragasuci (1297 – 1303 M). Permaisuri Ragasuci adalah Dara Puspa puteri raja Melayu Darmasraya yang bernama Trailokya-raja Maulibusana Warmadewa yang juga menjadi mertua Prabu Kertanegara dari Singasari. Ragasuci berkedudukan di Saunggalah (Tasikmalaya) dan setelah wafat dipusarakan di Taman.

Raja berikutnya adalah Prabu Citraganda yang ditunjuk oleh Darmasiksa

sebagai ahli warisnya di Pakuan. la putera Prabu Ragasuci dari Dara Puspa. Hubungan kekerabatannya dengan keraton Majapahit sangat erat. Raden Wijaya adalah kakak-sepupunya karena Jayadarma, ayah Wijaya, adalah kakak prabu Ragasuci. Demikian pula Dara Petak salah seorang isteriWijaya adalah kakak-sepupunya dari pihak ibu. Dara Petak (adik Dara’Jingga) adalah puteri Kertanagara dari Dara Kencana kakak Dara Puspa ibunda Prabu Citraganda. Dara Petak adalah ibunda Prabu Jayanagara raja Majapahit yang kedua.

Prabu Citraganda (1303 – 1311 M) dipusarakan di Tanjung. la diganti­kan oleh puteranya yaitu Prabu Linggadewata (1311 – 1333 M). Raja ini dapat dianggap raja peralihan karena setelah ia wafat raja-raja berikutnya memerintah di Kawali. Sangat mungkin ia sendiri mengakhiri masa pemerin-tahannya di Kawali. Raja ini dipusarakan di Kikis.

RAJA-RAJA SUNDA SETELAH SRI JAYABUPATI

Puteri Melayu x Sri Jayabupati x puteri Darmavvangsa

Darmaraja 1042- 1065

Langlangbumi 1065- 1155

Rakeyan Jayagiri 1055- 1057

Darmakusuma 1057- 1175

Puteri Darma Agung x Darmasiksa    x    Puteri Sriivijaya 1175- 1297

Premana Jayadarma x Lembu Tal’ Ragasuci x Dara Puspa

1297- 1303

Raden Wijaya             Citraganda

(MAJAPAHIT)     13-3-1311

Linggadewata 1311 – 1333

AjigunaLinggawisesa x Uma Lestari 1333- 1340

pr@bu 180208

Posted in Galuh, jawa barat, Kisah, Sejarah, Sunda | Tagged: , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | Leave a Comment »

Prabu Siliwangi

Posted by prabujayadiningrat on February 18, 2008

Di Jawa Barat Sri Baduga ini lebih dikenal dengan nama Prabu Siliwangi. Nama Siliwangi sudah tercatat dalam Kropak 630 sebagai lakon pantun. Naskah itu ditulis tahun 1518 ketika Sri Baduga masih hidup. Lakon Prabu Siliwangi dalam berbagai versinya berintikan kisah tokoh ini menjadi raja di Pakuan. Peristiwa itu dari segi sejarah berarti saat Sri Baduga mempunyai kekuasaan yang sama besarnya dengan Wastu Kancana (kakeknya) alias Prabu Wangi (menurut pandangan para pujangga Sunda).

Menurut tradisi lama. orang segan atau tidak boleh menyebut gelar raja yang sesungguhnya, maka juru pantun mempopulerkan sebutan Siliwangi. Dengan nama itulah ia dikenal dalam literatur Sunda. Wangsakerta pun mengungkapkan bahwa Siliwangi bukan nama pribadi, ia menulis:

Kawalya ta wwang Sunda lawan ika wwang Carbon mwang sakweh ira wwang Jawa Kulwan anyebuta Prabhu Siliwangi raja Pajajaran. Dadyeka dudu ngaran swaraga nira“.

Indonesia: Hanya orang Sunda dan orang Cirebon serta semua orang Jawa Barat yang menyebut Prabu Siliwangi raja Pajajaran. Jadi nama itu bukan nama pribadinya.

Masa muda

Waktu mudanya Sri Baduga terkenal sebagai kesatria pemberani dan tangkas bahkan satu-satunya yang pernah mengalahkan Ratu Japura (Amuk Murugul) waktu bersaing memperbutkan Subanglarang (istri kedua Prabu Siliwangi yang beragama Islam). Dalam berbagai hal, orang sejamannya teringat kepada kebesaran mendiang buyutnya (Prabu Maharaja Lingga Buana) yang gugur di Bubat yang digelari Prabu Wangi.

Tentang hal itu, Pustaka Rajyarajya i Bhumi Nusantara II/2 mengungkapkan bahwa orang Sunda menganggap Sri Baduga sebagai pengganti Prabu Wangi, sebagai silih yang telah hilang. Naskahnya berisi sebagai berikut (artinya saja):

“Di medan perang Bubat ia banyak membinasakan musuhnya karena Prabu Maharaja sangat menguasai ilmu senjata dan mahir berperang, tidak mau negaranya diperintah dan dijajah orang lain.
Ia berani menghadapi pasukan besar Majapahit yang dipimpin oleh sang Patih Gajah Mada yang jumlahnya tidak terhitung. Oleh karena itu, ia bersama semua pengiringnya gugur tidak tersisa.
Ia senantiasa mengharapkan kemakmuran dan kesejahteraan hidup rakyatnya di seluruh bumi Jawa Barat. Kemashurannya sampai kepada beberapa negara di pulau-pulau Dwipantara atau Nusantara namanya yang lain. Kemashuran Sang Prabu Maharaja membangkitkan (rasa bangga kepada) keluarga, menteri-menteri kerajaan, angkatan perang dan rakyat Jawa Barat. Oleh karena itu nama Prabu Maharaja mewangi. Selanjutnya ia di sebut Prabu Wangi. Dan keturunannya lalu disebut dengan nama Prabu Siliwangi. Demikianlah menurut penuturan orang Sunda”.

Perang Bubat

Kesenjangan antara pendapat orang Sunda dengan kenyataan sejarah seperti yang diungkapkan di atas mudah dijajagi. Pangeran Wangsakerta, penanggung jawab penyusunan Sejarah Nusantara, menganggap bahwa tokoh Prabu Wangi adalah Maharaja Linggabuana yang gugur di Bubat, sedangkan penggantinya (”silih”nya) bukan Sri Baduga melainkan Wastu Kancana (kakek Sri Baduga, yang menurut naskah Wastu Kancana disebut juga Prabu Wangisutah).

Nah, orang Sunda tidak memperhatikan perbedaan ini sehingga menganggap Prabu Siliwangi sebagai putera Wastu Kancana (Prabu Anggalarang). Tetapi dalam Carita Parahiyangan disebutkan bahwa Niskala Wastu Kancana itu adalah “seuweu” Prabu Wangi. Mengapa Dewa Niskala (ayah Sri Baduga) dilewat? Ini disebabkan Dewa Niskala hanya menjadi penguasa Galuh. Dalam hubungan ini tokoh Sri Baduga memang penerus “langsung” dari Wastu Kancana. Menurut Pustaka Rajyarajya I Bhumi Nusantara II/4, ayah dan mertua Sri Baduga (Dewa Niskala dan Susuktunggal) hanya bergelar Prabu, sedangkan Jayadewata bergelar Maharaja (sama seperti kakeknya Wastu Kancana sebagai penguasa Sunda-Galuh).

Dengan demikian, seperti diutarakan Amir Sutaarga (1965), Sri Baduga itu dianggap sebagai “silih” (pengganti) Prabu Wangi Wastu Kancana (oleh Pangeran Wangsakerta disebut Prabu Wangisutah). “Silih” dalam pengertian kekuasaan ini oleh para pujangga babad yang kemudian ditanggapi sebagai pergantian generasi langsung dari ayah kepada anak sehingga Prabu Siliwangi dianggap putera Wastu Kancana.

Keterangan lain tentang perang bubat

Keterangan tetang bubat yang dimuat harian Suara Merdeka adalah sebagai berikut:

Perang antara Kerajaan Majapahit dan Kerajaan Sunda itu terjadi di desa Bubat. Perang ini dipicu oleh ambisi Maha Patih Gajah Mada yang ingin menguasai Kerajaan Sunda. Pada saat itu sebenarnya antara Kerajaan Sunda dan Majapahit sedang dibangun ikatan persaudaraan, yaitu dengan menjodohkan Dyah Pitaloka dengan Maharaja Hayamwuruk. Nah Rombongan Kerajaan Sunda ini di gempur oleh pasukan Mahapatih Gajah Mada yang menyebabkan semua pasukan Kerajaan Sunda yang ikut rombongan punah. Akibat perang Bubat inipula, maka hubungan antara Mahapatih Gajah Mada dan Maharaja Hayamwuruk menjadi renggang“.

Ada sebuah pustaka yang bisa dijadikan rujukan, Guguritan Sunda, yang Mengisahkan gejolak sosial dan pecahnya perang di Desa Bubat antara Kerajaan Majapahit dengan Kerajaan Sunda dan gugurnya Mahapatih Gajah Mada secara misterius. Alih bahasa oleh I Wayan Sutedja (sepertinya pustaka aslinya ditulis dalam Bahasa Bali, 1995. disimpan di Universitas Ohio.

pr@bu 180208

Posted in Galuh, Kisah, Sejarah, Sunda | Tagged: , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | Leave a Comment »